KOLTIM, Aspirasisultra.com – Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kolaka Timur, Dr. Ir. Idarwati, MM., memaparkan tujuan utama pelaksanaan sosialisasi percepatan Program Makan Bergizi (MBG) ketika ditemui di ruang kerjanya pada Senin (01/12/2025). Sosialisasi ini menjadi bagian dari langkah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara selaku Sekretariat Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Sultra dalam memperkuat penyebaran informasi dan memastikan layanan gizi bagi peserta didik di seluruh daerah berjalan sesuai standar.
Idarwati menjelaskan bahwa dasar pelaksanaan sosialisasi MBG di Koltim mengacu pada SK Bupati Nomor 100.3.32/253 Tahun 2025 tentang Pembentukan Satgas Percepatan Program Makan Bergizi Gratis, khususnya bagi wilayah kategori 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Dalam keputusan tersebut, Dinas Ketahanan Pangan ditetapkan sebagai sekretaris pelaksana program MBG untuk wilayah 3T. Usai pelaksanaan sosialisasi, Satgas langsung melanjutkan agenda evaluasi di sejumlah dapur layanan gizi bersama Wakil Rektor dan OPD terkait.
Saat dimintai penjelasan mengenai ketentuan distribusi makanan maksimal 35 menit, Idarwati menerangkan bahwa BGN menetapkan standar ketat agar makanan yang didistribusikan tetap aman dan layak dikonsumsi. Ia menegaskan bahwa setiap omprengan tidak boleh menempuh perjalanan lebih dari 35 menit sejak proses pengiriman dimulai.
“Satgas daerah rutin turun langsung ke dapur maupun sekolah untuk memastikan standar ini dipatuhi,” ujarnya.
Lebih jauh, Idarwati menyampaikan bahwa Koltim memiliki 11 titik dapur MBG yang tersebar di kawasan terpencil. Setiap dapur wajib memastikan jarak tempuh distribusi tidak melebihi batas waktu yang ditentukan, meskipun beberapa lokasi hanya melayani sekitar 26 siswa. Di wilayah sulit seperti Desa Likuwalanapo, BGN telah membangun SPPG (dapur layanan lokal) agar kualitas makanan tetap terjaga.
Meski demikian, beberapa titik masih mengalami kendala distribusi akibat kondisi infrastruktur. Di Desa Lambotuo, Kecamatan Mowewe, kerusakan jalan sering kali menyebabkan makanan harus dikembalikan ke dapur karena tidak dapat tiba tepat waktu. Situasi serupa terjadi di Singgere, sehingga Satgas mengusulkan pembangunan dapur baru untuk meningkatkan efisiensi dan memastikan distribusi tidak melewati batas 35 menit.
Idarwati juga menyoroti proses pendataan penerima manfaat. Menurutnya, pemerintah daerah memastikan seluruh anak usia sekolah, termasuk yang tidak bersekolah, tetap terdata sebagai calon penerima layanan gizi gratis. Pemerintah desa diwajibkan menyerahkan daftar anak kepada Satgas Kabupaten untuk diteruskan ke BGN agar tidak ada yang terlewat.
Saat ini empat dapur MBG telah beroperasi, sementara satu dapur di Welala masih menunggu sertifikasi higienis lingkungan. Dinas Ketahanan Pangan juga tengah menunggu kedatangan rapites untuk analisis pangan segar asal tumbuhan (PSAT) sebagai langkah memastikan bahwa seluruh bahan baku yang dimasak memenuhi standar keamanan pangan.
Kolaborasi dengan Dinas Kesehatan terus dilakukan, terutama dalam memastikan kebersihan dapur, sanitasi, dan kualitas air. Evaluasi mingguan dilakukan untuk memastikan penjamah makanan, juru masak, dan petugas kebersihan mengikuti standar higienitas demi mencegah kontaminasi.
Lebih lanjut, Idarwati menjelaskan bahwa setelah sosialisasi, Satgas kembali menggelar rapat evaluasi bersama Kepala Dinas Kesehatan dan bidang sanitasi. Dalam rapat tersebut, seluruh kepala desa serta pengelola SPPG diminta melaporkan segera setiap kendala terkait keamanan pangan.
“Jika terdapat anak yang mengalami gejala keracunan, laporan harus disampaikan terlebih dahulu kepada Satgas sebelum penanganan di puskesmas, agar analisis penyebab dapat dilakukan secara tepat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman publik,” ujar Idarwati.
Sebagai sekretaris Satgas MBG, ia berharap seluruh unsur Satgas, termasuk Forkopimda, semakin memperkuat kerja sama dalam meningkatkan keamanan dan kualitas layanan program MBG. Ia juga menekankan pentingnya sertifikasi halal, sertifikasi higienis dapur, serta deteksi dini potensi kontaminasi seperti bakteri, jamur, dan patogen lainnya.
Di akhir penjelasannya, Idarwati menegaskan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis sangat bergantung pada kedisiplinan semua pihak dalam menjaga kualitas layanan demi kesehatan anak-anak Kolaka Timur.
Laporan: Jumran
